Gaya komunikasi yang harus dihindari oleh karyawan (2)

Posted: 1 Februari 2011 in Artikel
Tag:, , ,

komunikasi2

Masih ada empat gaya komunikasi lain yang harus dihindari oleh karyawan, apa saja? Simak pembahasan berikut :

Gaya 4 : Si Penyenang

Si Penyenang mempunyai satu misi dalam hidupnya, yakni menyenangkan hati semua orang. Akibatnya, perkataan seperti ini yang sering keluar dari bibirnya,“Saya akan lakukan apa saja bagimu asalkan kamu bahagia”. Berbicara dengan Si Penyenang memang bisa menyenangkan karena ia akan mengangguk-angguk setuju saja, namun biasanya gaya komunikasi ini dapat mendangkalkan relasi pribadi.

Sukar sekali untuk mengetahui hati Si Penyenang karena ia tidak terbuka. Ketidakterbukaannya itu juga cenderung membuatnya menumpuk semua perasaan dalam hati. Kalau tidak tertahankan, ia mudah menjadi orang tertekan dan tidak bahagia.

Gaya 5 : Si Pelupa
Kita bisa lupa dan adakalanya sengaja melupakan peristiwa tertentu. Malangnya, Si Pelupa lupa dan melupakan terlalu banyak hal dan frekuensinya terlalu sering. Ia acap kali berujar, “Tidak, saya tidak merasa mengatakan hal itu”. Padahal kenyataannya ialah ia mengatakan hal tersebut, baik karena lupa atau melupakan informasi yang akhirnya dibutuhkan oleh orang lain.

Gaya komunikasi ini cenderung melemahkan kepercayaan orang pada dirinya sendiri. Orang lain dapat membentuk anggapan bahwa Si Pelupa meremehkan atau bisa juga, orang lain menilai bahwa Si Pelupa tidak tulus. Hal ini sungguh tak menguntungkan karena komunikasi sangat bergantung pada kepercayaan.

Gaya 6 : Si Pendebat
Repot juga berkomunikasi dengan Si Pendebat karena pembicaraan dengannya cenderung menjadi arena balapan kebenaran. Perhatikan kata- kata yang biasanya keluar dari mulutnya, “Apa benar saya berkata demikian?”, ”Apa kamu yakin ?”, “Bagaimana dengan dirimu sendiri ?”. Si Pendebat kaya dengan kata-kata dan gaya berkomunikasinya mirip dengan taktik menyerbu orang lain dengan bombardir kata-kata.

Si Pendebat cenderung melemparkan fokus masalah ke pihak lawannya sehingga ia bebas dari kesulitan. Gaya komunikasi ini bisa menimbulkan rasa tidak suka dan jenuh pada orang lain karena bicara dengannya membuat diri merasa diserang. Lebih jauh lagi, Si Pendebat akhirnya membuat orang beranggapan bahwa ia senantiasa mengelak dari tanggung jawabnya.

Gaya 7: Si Talenan
Rasa iba, kasihan, simpati adalah beberapa kata yang sering diasosiasikan dengan Si Talenan karena perasaan-perasaan seperti itulah yang timbul tatkala melihatnya. Si Talenan selalu menyediakan dirinya menjadi sasaran tudingan orang lain tanpa benar-benar menyadari di mana letak kesalahannya. Ucapan seperti ini cenderung muncul dari bibirnya, “Betul, memang saya yang salah dan sudah sepantasnya dimarahi”.
Masalahnya ialah, ia melakukan itu karena tidak berani atau berkekuatan menyatakan kebenaran. Ia tidak suka keributan dan baginya silang pendapat tidaklah bijaksana dan harus  dihindari. Gaya komunikasi ini sangat merugikan dirinya dan bisa mengundang penghinaan dari orang lain.

Dari penjelasan di atas kita melihat bahwa gaya komunikasi dapat memancarkan kepribadian kita yang sesungguhnya, namun bisa pula merupakan gaya yang dipelajari. Adakalanya untuk mendapatkan penerimaan dari pihak lain, kita terpaksa mengikuti gaya komunikasi yang tertentu. Gaya komunikasi baik bawaan kepribadian maupun yang kita pelajari dari keluarga dan lingkungan tentulah perlu dikoreksi. Salah satu caranya adalah dengan meminta tanggapan dan pendapat orang lain setelah mereka mendengar ucapan kita. Memang, adakalanya hal yang penting tampaknya sederhana seperti halnya gaya kita berkomunikasi.

source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s